Beranda | Artikel
Mencintai Orang-Orang yang Dicintai
8 jam lalu

Mencintai Orang-Orang yang Dicintai adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Shahih Jami’ Ash-Shaghir. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Emha Hasan Ayatullah pada Kamis, 21 Rabiul Awal 1448 H / 3 September 2026 M.

Kajian Tentang Mencintai Orang-Orang yang Dicintai

Para ulama memberikan pesan bahwa kecintaan kepada orang yang dicintai bukan sekadar kecintaan yang mengikuti hawa nafsu. Kecintaan itu harus dibangun di atas ibadah. Jika kita mencintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecintaan tersebut ditunjukkan dengan mencintai orang-orang yang dicintai beliau.

Orang yang Paling Dicintai Nabi

Hadits pertama tercantum dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib nomor 177. Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, serta diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ عَائِشَةُ. وَمِنَ الرِّجَالِ أَبُوهَا

“Orang yang paling aku cintai adalah Aisyah. Adapun dari kalangan laki-laki, ayahnya adalah orang yang paling aku cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang orang yang paling beliau cintai. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Aisyah.” Ketika ditanya tentang laki-laki, beliau menjawab, “Ayahnya.”

Jawaban tersebut disampaikan secara spontan. Para sahabat telah memahami bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering menyebutkan kecintaan beliau kepada Aisyah. Karena itu, sebagian sahabat sengaja menunggu ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di rumah Aisyah dan sedang dalam keadaan bahagia untuk memberikan hadiah kepada beliau.

Kemudian disebutkan Umar, lalu Utsman. Dalam sebuah riwayat, penyebutan itu berhenti karena khawatir dirinya disebut paling akhir setelah nama-nama yang lain. Dengan demikian, ia termasuk orang yang paling akhir disebut sebagai orang yang dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Hal ini menunjukkan kecintaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada beberapa orang di sekitarnya. Al-Munawi rahimahullah, dalam syarah Al-Jami Ash-Shagir, menyebutkan bahwa seseorang boleh menceritakan kecintaannya kepada orang lain.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menceritakan kepada para sahabat bahwa beliau mencintai Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Karena memang pada waktu itu Aisyah merupakan istri beliau yang ada adalah istri yang paling dicintai.

Namun, kecintaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Khadijah Radhiallahu ‘Anha juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri.

Ketika Aisyah Radhiallahu ‘Anha cemburu dan berkata, “Orang yang sudah tua dan telah meninggal itu mengapa terus engkau sebut-sebut?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab bahwa ketika orang-orang menolak dakwahnya, Khadijah membelanya; ketika orang-orang menjauhinya, Khadijah memercayainya; dan dari Khadijah, beliau memiliki anak.

Anak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjumlah tujuh orang dari Khadijah Radhiallahu ‘Anha. Dalam hadits sahih disebutkan bahwa Khadijah binti Khuwailid dan Maryam binti Imran merupakan wanita terbaik. Para ulama menafsirkan bahwa pada zaman Khadijah, wanita terbaik adalah Khadijah, sedangkan pada zaman Maryam binti Imran, wanita terbaik adalah Maryam.

Sebagian ulama mengatakan bahwa membandingkan siapa yang lebih utama di antara Maryam, Khadijah, dan Aisyah bukanlah kebiasaan salaf. Tidak ada dalil yang menjelaskan hal itu secara tegas. Urusan tersebut diserahkan kepada dalil karena termasuk perkara ghaib.

Hal yang paling penting, mereka semua adalah perempuan salehah, terutama Khadijah dan Aisyah Radhiallahu ‘Anhuma. Sebagai seorang muslim, kita berharap Allah mengumpulkan kita bersama Ummahatul Mukminin di dalam surga.

Kita mencintai syariat ini dan mencintai ahlulbait Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita berharap suatu saat dikumpulkan bersama mereka. Kita juga meyakini bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mencintai Aisyah Radhiallahu ‘Anha.

Aisyah Radhiallahu ‘Anha adalah seorang sahabiyah yang cerdas. Al-Munawi rahimahullah menyatakan bahwa kecintaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Aisyah mencakup kecintaan dunia dan akhirat.

Kecintaan dunia itu berkaitan dengan kecantikan dan kecerdasannya. Kecintaan akhirat berkaitan dengan ilmu, ketakwaan, pengorbanan, keyakinan, dan keimanannya. Karena itu, kecintaan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada keluarga Aisyah, ayah, ibu, dan saudara-saudaranya merupakan sesuatu yang tidak diragukan.

Sebagian sahabat menyampaikan bahwa peristiwa turunnya ayat tayamum bukanlah keberkahan pertama yang terjadi di tengah keluarga Abu Bakar. Peristiwa itu terjadi ketika Aisyah Radhiallahu ‘Anha kehilangan kalung sehingga rombongan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertahan, sementara mereka tidak membawa air.

Mencintai Orang-Orang yang Dicintai Nabi

Salah satu ciri keistimewaan orang-orang di sekitar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah bahwa orang yang mencintai Nabi akan mencintai orang-orang di sekitar beliau, termasuk orang-orang yang beliau cintai. Hal ini termasuk akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dunia akan menjadi istri-istri beliau di akhirat. Karena itu, mereka tidak boleh menikah kembali. Kita berharap dapat dikumpulkan bersama mereka. Adapun orang-orang yang mencela, menjelekkan, mengafirkan, atau menuduh mereka berzina, banyak ulama menegaskan kekufuran mereka.

Imam Malik rahimahullah dinukil pernah mengatakan bahwa orang yang mencela sahabat pantas dipukul dan dihukum takzir, sedangkan orang yang mencela Aisyah Radhiallahu ‘Anha pantas dibunuh.

Ketika ditanya tentang perbedaan tersebut, Imam Malik menjelaskan bahwa Allah menurunkan ayat khusus untuk menyucikan Aisyah. Orang yang mencela Aisyah dan menuduhnya berzina berarti mengingkari Al-Qur’an.

Mencintai dan Membenci Secukupnya

Hadits kedua masih membahas cinta, suka, dan cara seseorang menempatkan hatinya kepada orang lain. Hadits nomor 178 diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman. Riwayat lain disebutkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah, Ath-Thabarani dari Abdullah bin Amr, Ad-Daraquthni, Ibnu Adi, dan Al-Baihaqi dari Ali Radhiallahu ‘Anhu.

Riwayat dari Ali Radhiallahu ‘Anhu berstatus mauquf. Meskipun demikian, riwayat tersebut dapat dikategorikan fi hukmi al-marfu’ karena perkataan seperti itu bukan semata-mata hasil pemikiran manusia, meskipun terkadang juga digunakan sebagai kata mutiara.

أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْماً مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْناً مَا، عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْماً مَا

“Cintailah orang yang engkau cintai secukupnya, karena boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang engkau benci. Bencilah orang yang engkau benci secukupnya, karena boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Tirmidzi)

Orang yang dicintai bisa saja kelak menjadi musuh, bahkan orang yang paling dibenci. Sebaliknya, kebencian harus diberikan secukupnya. Jangan berlebihan hingga memperlakukan seseorang seolah-olah tidak seagama, karena bisa jadi kelak ia menjadi orang yang dicintai dan membantu ketika dibutuhkan.

Manusia tidak mungkin memuaskan semua pihak. Ketika mencintai, seseorang cenderung ingin memenuhi hati dengan kecintaan. Ketika membenci, ia ingin menghilangkan seluruh rasa cinta. Sikap seperti itu tidak mungkin dipertahankan. Jika seseorang mengubah perasaan yang sejak awal dibangun secara tidak bijaksana, ia akan merasa malu mengubah pikirannya dan kesulitan bersikap.

Karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan agar perasaan diberikan secukupnya. Jika riwayat ini tidak berstatus marfu, ia merupakan perkataan Ali Radhiallahu ‘Anhu yang mauquf. Pesan tersebut sejalan dengan beberapa nukilan dari salafus saleh.

“Umar bin Khattab Radhiallahu ‘Anhu berkata, ‘Janganlah kecintaanmu berlebihan dan jangan pula kebencianmu menghancurkan.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)

Ketika ditanya maksudnya, Umar Radhiallahu ‘Anhu menjelaskan bahwa kecintaan tidak boleh membuat seseorang tertambat seperti anak kecil kepada ibunya atau seperti anak kecil kepada mainannya. Orang yang terlalu mencintai akan sulit meninggalkan sesuatu yang disukainya.

Kebencian juga tidak boleh membuat seseorang menginginkan kematian temannya. Sikap seperti itu merupakan bentuk kebencian yang buruk dan berlebihan. Seseorang bisa saja kelak membutuhkan orang tersebut, menyesal karena selama ini menjaga jarak, baru mengetahui bahwa ia masih keluarga, atau baru menyadari jasa besar yang pernah diberikannya.

Intinya, kecintaan dan kebencian diberikan secukupnya. Tidak ada sesuatu yang abadi dalam kehidupan ini. Kepercayaan terkadang berubah menjadi pengkhianatan. Ketika seseorang terlalu dekat, seluruh rahasia dapat terbuka, bahkan kecemburuan dan urusan keluarga seolah-olah menjadi urusan bersama. Namun, syariat tetap memberikan batasan, sedekat apa pun hubungan seseorang.

Kalau tidak diberikan batasan, itu bisa menjadi peluang unutk berubah. Ibarat pepatah “Pagar makan tanaman.” Yaitu ketika kedekatan berubah menjadi pengkhianatan. Demikian pula, hubungan yang dibangun atas kepentingan dunia dapat berubah menjadi permusuhan pada hari yang sama ketika kepentingan tersebut hilang atau tidak tercapai.

Cinta yang Dibangun di Atas Ketakwaan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 67)

Dalam Al-Qur’an, cinta yang abadi adalah cinta yang dibangun di atas keimanan. Khullah merupakan kecintaan yang memenuhi hati dan tidak menyisakan ruang bagi kecintaan kepada yang lain. Namun, kecintaan sebesar apa pun akan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat, kecuali kecintaan yang dibangun di atas ketakwaan.

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa setiap pertemanan, kedekatan, dan hubungan akan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat, kecuali yang dibangun karena Allah ‘Azza wa Jalla. Kecintaan karena Allah akan langgeng dan abadi.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56519-mencintai-orang-orang-yang-dicintai/